Dua Tahun


Bekasi, 15 Oktober 2019

Pukul 17.28 WIB. Waktu yang sangat terkenal dengan kepadatan yang terjadi di kota-kota besar, jam pulang kerja. Ada persamaan dan perbedaan antara jam berangkat kerja dan jam pulang kerja. Persamaannya adalah macet dan padat di mana-mana, sedangkan perbedaannya adalah suasana yang menyelimuti di setiap perjalanan—entah itu dengan kendaraan pribadi seperti motor atau mobil maupun kendaraan umum seperti angkot, bis, atau kereta. Pagi merupakan waktu yang sangat identik dengan semangat dan penuh motivasi, sedangkan sore merupakan waktu yang identik dengan rasa lelah dan ingin bersantai. Maka dari itu, macet di pagi hari tidak akan pernah sama seperti macet di sore hari. Biasanya di sore hari banyak orang yang emosi, ingin cepat sampai rumah, bahkan ada yang mukanya sudah lemas dan lesu.

Sore ini, sama seperti sore-sore sebelumnya, sama seperti rutinitasku selama setengah tahun terakhir. Pulang kerja dengan menaiki KRL sepaket dengan sesak-sesakan di dalam gerbong bersama orang-orang yang sama-sama pulang kerja. Terkadang aku duduk sambil tertidur atau melamun, tapi seringnya berdiri sambil berpegangan pada handgrip. Untuk sore ini aku berdiri di dekat pintu gerbong sambil bersandar dan memegang pegangan yang ada di dekat pintu. Biasanya aku ditemani oleh musik yang dikeluarkan oleh TWS milikku. Tapi sore ini aku tidak mengeluarkannya karena baterainya habis, alhasil aku hanya bisa melamun sambil menatap ke luar KRL yang aku naiki.

Sedikit bosan dengan pemandangan luar KRL, aku memutar badanku ke arah dalam gerbong. Aku menatapi satu persatu penumpang yang berdesak-desakan. Ada yang mengenakan setelah rapi dengan dasi warna kuning keemasan dan kemeja biru navy polos yang dimasukkan, ada yang mengenakan kaos hitam polos dengan tas punggung yang terlihat berat, ada yang mengenakan hoodie zipper berwarna cokelat yang sudah luntur sambil mengenakan hood-nya serta di telinganya terpasang earphone dengan wajah melamun, ada yang bermuka masam seolah habis terkena PHK, ada yang bermuka lemas seolah habis berlari berpuluh-puluh kilometer, ada yang bermuka senang seolah akan bertemu anaknya yang masih kecil di rumah, ada yang menunjukkan seperti sedang stress seolah memiliki banyak hutang, ada beberapa yang sudah tertidur karena kelelahan, ada yang sedang asyik chating-an sambil tertawa pelan. Seperti keajaiban rasanya ketika semuanya disatukan dalam satu gerbong dengan satu motivasi: pulang.

Aku jadi memikirkan perkataan Haris semalam. Katanya, “Bras, hidup itu kayak roda, kadang di atas, kadang di tengah, kadang di bawah. Itu juga kalo rodanya muter yak. Lah, kalo kagak muter? Yaudah, yang di atas ya tetep di atas, yang di tengah tetep di tengah, dan yang di bawah tetep di bawah. Nah, lu liat dulu nih roda lu muter apa kagak? Kalo muter ya alhamdulillah kalo kagak ya lu berarti harus introspeksi diri, kenapa bisa kagak muter itu roda. Apa karena faktor internal atau eksternal. Dan kalo emang roda lu muter, lu juga jangan lupa posisi lu. Kalo lagi di atas jangan lupa bersyukur, kalo lagi di bawah jangan lupa bersabar, dan kalo lagi di tengah ya dua-duanya, bersyukur dan bersabar.”. Meskipun tampangnya seperti orang asal-asalan atau bisa disebut “orang ga jelas” karena brewok yang lumayan lebat sekaligus rambutnya yang panjang, tapi Haris merupakan orang yang baik dan pekerja keras. Aku lumayan sering bercerita dan mengeluh berbagai hal ke Haris dan Nadya—pacar Haris, terkadang mereka merespon dengan baik, terkadang juga malah aku yang kena omel mereka berdua.

Mengenai perkataan Haris semalam, aku jadi berpikir mengenai nasib-nasib para penumpang yang sedang membersamaiku saat ini. Apakah roda mereka berputar? Apakah roda mereka berjalan dengan baik? Sedang di manakah posisi mereka saat ini? Di atas kah? Di tengah kah? Atau justru sedang di bawah? Bagaimana mereka melewati itu semua? Apakah sepertiku, mengeluh, mengeluh, dan mengeluh? Atau seperti Haris, hadapi, hadapi, dan hadapi? Atau dengan cara yang lain? Yang lebih efektif, mungkin?

Aku jadi semakin larut dalam lamunanku. Hingga tidak terasa sudah sampai di stasiun tujuanku. Pintu gerbong terbuka di hadapanku. Mau tidak mau aku harus menyudahi lamunanku, mungkin bisa aku lanjutkan di kos nanti. Aku segera turun dari KRL dan lanjut melangkah di peron hingga keluar stasiun. Berdiri di depan Indomaret menunggu hingga ojek online menjemputku. Aku menghela napas. Sepertinya hari ini sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Hari-hari yang monoton. Tapi mau bagaimana lagi. Kata Haris, hidup itu harus terus dijalani dan disyukuri, kalau tidak bisa-bisa tidak tenang hidupnya.

Jakarta, 10 Agustus 2021

Pukul 13.12 WIB. Terlalu terik rasanya jika siang-siang seperti ini digunakan untuk berkeliling di Jakarta. Tapi banyak yang menghiraukannya karena mereka harus memenuhi keperluan perut: makan siang. Waktu istirahat makan siang. Waktu yang tepat untuk berbincang-bincang dengan rekan kerja atau melaksanakan meeting di resto atau kafe sambil dihidangkan makanan yang menggiurkan. Meskipun cuacanya sedang panas, mereka tidak peduli. Urusan perut akan tetap menjadi nomor satu.

Siang ini aku tidak memiliki janji temu atau makan bersama. Jadi, siang ini aku akan makan siang sendirian. Haris katanya sedang ada proyek penting yang harus dikerjakan, sedangkan Nadya sedang ada janji meet dengan client dari luar negeri. Aku memutuskan makan siang di warung Padang di dekat stasiun. Di sana terkenal rasanya yang enak dan bikin nagih katanya. Harganya juga lumayan murah untuk satu porsi nasi rendang dan es teh manis totalnya dua puluh ribu rupiah. Sesampainya aku langsung memesan keinginanku dan langsung duduk di pojok dekat cermin.

Aku memerhatikan sekitar. Ruangannya sedikit kekurangan pencahayaan yang menjadikan ruang makannya menjadi sedikit gelap dibandingkan luar ruangan. Mejanya ada sepuluh termasuk yang aku tempati. Terdapat tiga orang yang melayani pembeli dengan celemek yang diikat sedikit miring. Setelah kedatanganku, tempat ini menjadi ramai. Jadi, beberapa pembeli terlihat sedang mengantre. Ada bapak-bapak yang mengenakan jaket ojek online beserta helmnya yang masih terpasang rapi di kepalanya, ada juga ibu-ibu mengenakan daster merah motif bunga sambil memegangi anaknya yang aku taksir ia masih belum lancar berbicara, ada juga mas-mas sekitar usiaku sedang ikut mengantre sambil menelpon temannya, memastikan pesanan dan titipannya benar. Beberapa meja juga sudah terisi sebelumnya, terlihat sekumpulan orang kantoran yang sedang asyik berbincang sambil satu di antara mereka memegang tusuk gigi dan menusuk-nusuk ke mulutnya. Tak lama setelah itu, makanan dan minumanku datang. Waktunya makan. Karena lapar, aku tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan porsiku. Langsung segera bayar ke kasir dan lanjut berjalan kembali menuju tempat kerjaku.

Pukul 16.10 WIB. Siap-siap jam pulang kerja. Aku langsung membereskan beberapa barang yang ada di atas mejaku. Beberapa ada yang aku masukkan ke dalam tas, beberapa ada yang aku masukkan laci, dan beberapa ada yang aku rapikan di atas meja. Tersisa satu barang terakhir, yaitu selembar undangan pernikahan. Sebenarnya aku sudah tahu mereka ingin menikah sejak sebulan yang lalu. Tapi lembaran undangan ini merupakan bentuk formal yang diberikan oleh mereka. Siapa lagi kalau bukan kedua temanku, Haris dan Nadya. Pernikahan mereka akan dilaksanakan minggu depan yang bertepatan dengan ulang tahun Indonesia. Sudah bisa dipastikan tema pernikahan mereka akan sangat Indonesia sekali. Merah Putih. Kata mereka cinta tanah air. Aku hanya mengiyakan perkataan mereka. Tapi, aku yakin pernikahan mereka akan menjadi pernikahan yang sangat meriah. Apalagi aku ditunjuk sebagai pembicara pada acara pernikahan mereka.

Aku semakin tidak sabar menunggu hari pernikaan mereka. Semakin aku bayangkan pernikahan mereka semakin tersenyum dan tersenyum lagi wajahku. Ah, sudahlah. Ini sudah waktunya pulang. Aku harus segera berkemas sebelum kantor ditutup. Sambil berjalan menuju pintu keluar, aku sambil memesan ojek online. Tidak menunggu lama, ojek online yang ku pesan langsung tiba. “Sesuai aplikasi ya” Kata sopir ojek online. Perjalanan dari kantor sampai stasiun tidak sampai lima belas menit, sangat tumben. Ah, mungkin orang-orang sedang sibuk mempersiapkan acara 17-an. Di KRL pun juga tidak begitu ramai. Bahkan aku bisa duduk dengan leluasa sambil membuka ponselku. Ah, sepertinya orang-orang memang sedang mempersiapkan 17-an.

Tapi jika dipikir-pikir lagi, Haris dan Nadya ternyata sudah berpacaran selama dua tahun. Apalagi seminggu lagi mereka menuju jenjang berikutnya, pasangan suami istri. Alangkah konsistennya mereka. Dan jika dipikir-pikir lagi, ternyata hari ini tidak seburuk hari-hari sebelumnya. Kabar baik terus berdatangan secara berangsur. Lumayan menyenangkan ternyata melewati hari tanpa ada hambatan.  Aku harap hari-hari berikutnya bisa seperti ini lagi.

Malang, 11 Juni 2023

Pukul 14.43 WIB. Langit sedang tidak mendukung untuk berpergian saat ini. Hujan lebat terus turun sejak lima jam yang lalu. Tapi manusia memang ada saja akalnya. Mereka segera mengeluarkan payung dan lanjut berjalan, ada yang membongkar bagasi motor untuk mengambil mantel yang akan dikenakan untuk menerobos hujan, ada juga yang mengendarai mobil sehingga tidak terlalu terhambat dengan adanya hujan lebat. Sedangkan aku, aku lebih memilih berteduh di salah satu warung di pinggir jalan bersama manusia-manusia yang memilih bersabar dengan hujan lebat ini. Aku tidak tahu sampai kapan hujan ini akan berhenti. Alhasil aku bersama manusia-manusia yang menemaniku hanya berdiam dan melamun sambil memandangi jalan yang terus-menerus ditetesi oleh air hujan.

Sebenarnya hari ini aku harus berangkat ke Jakarta jam empat sore nanti. Aku sedang merasa perlu pulang untuk melepas rindu kepada teman-temanku. Aku juga sudah memesan tiket semenjak seminggu yang lalu. Lumayan mahal tiketnya. Jadi, mau tidak mau aku harus berangkat jam empat sore nanti. Seharusnya juga siang ini aku berkeliling di toko untuk membelikan oleh-oleh kepada mereka, aku ingin memberi kejutan. Tapi terhalang karena hujannya sangat lama.

Pukul 16.25 WIB. Hujan sudah reda sejak satu jam yang lalu. Tadi aku tidak sempat pergi ke toko. Aku langsung pulang ke kos untuk mengemas barang-barangku. Tanpa berlama-lama lagi, aku langsung berangkat menuju stasiun menggunakan ojek online. Dua puluh menit sebelum keberangkatan aku sampai di stasiun dan melihat ada yang berjualan souvenir gantungan kunci bertuliskan “I LOVE MALANG”. Aku langsung membeli tiga buah dan menyimpannya di saku celana. Berlari kecil menuju peron karena keretanya sebentar lagi akan datang. Menunggu sekitar tujuh menit sampai kereta tiba. Aku langsung masuk kereta dan mencari kursi sesuai tiket yang sudah aku pesan.

Dari semenjak aku duduk di kursiku sampai sekarang mata dan pikiranku masih terjaga. Aku memikirkan banyak hal. Kerinduan. Penyesalan. Rasa bersalah. Ketakutan. Semua campur aduk di kepalaku. Sudah terhitung dua tahun aku pergi meninggalkan mereka ke Malang. Selama dua tahun itu pula aku selalu merasakan rindu, menyesal, merasa bersalah, dan takut di setiap pagi yang ingin aku jalani. Bahkan sampai spekulasi-spekulasi yang seharusnya tidak terpikirkan malah terlintas di kepalaku. Maka dari itu, aku memutuskan pulang kembali ke Bekasi. Siapa tahu kondisi di sana sudah mereda. Aku pun juga sudah rindu berat.

Ah, sebaiknya aku tidur saja. Perjalanan ini akan memakan waktu banyak. Yang penting perut sudah kenyang dan badan sudah tidak gerah. Itu adalah aturan tak tertulisku sebelum tidur.

Bekasi, 12 Juni 2023

Pukul 07.06 WIB. Aku sudah sampai di Jakarta sejak dua jam yang lalu. Aku langsung memesan taksi online untuk langsung mengantarkanku ke Bekasi, ke tempat kediaman teman-temanku. Di perjalanan aku meminta sopir taksi untuk mampir ke toko buket bunga. Dan sekarang di sinilah aku, berdiri di hadapan teman-temanku sambil memegang dua buket bunga. Seketika aku langsung berlutut di hadapan mereka sambil pelan-pelan menaruh kedua buket tersebut di atas tanah. Aku sudah tidak tahan lagi. Hingga pada akhirnya tangisku buncah.

“Ris, Nad, gua rinduuuuuu…banget sama kalian. Gua kangeeeeen…banget sama kalian. Sumpah di Malang kagak ada asiknya kalo kagak ada kalian berdua. Gua……gua…rindu kalian……… Ini semua juga salah gua… Gua…gua minta maaf Ris, Nad. Minta maaf banget. Gua……gua udah ninggalin kalian berdua di sini. Dengan kejamnya…gua…gua ninggalin kalian…… Padahal kalian di sini kedinginan, butuh temen ngobrol, keujanan juga lagi……”

Pelan-pelan aku merangkak mendekat ke salah dua batu, duduk di antara kedua batu tersebut. Aku usap dengan lembut batu-batu tersebut meskipun tanganku bergetar hebat. Di batu-batu tersebut terdapat tulisan “Haris Wicak Sono” dan “Nadya Putri”. Di bawahnya terdapat tulisan yang sama “Meninggal: 16 Agustus 2021”.

“Sumpah…ga ada kalian rasanya sakiiiiiit…banget. Tersiksaaaaaa…banget rasanya. Seharusnya…seharusnya enggak gini… Seharusnya…seharusnya gua aja yang mati waktu itu. Seharusnya kalian udah bahagia jadi pasutri, gendong anak, jalanin kehidupan. Tanpa kalian…tanpa kalian gua enggak kuat… Harusnya…harusnya gua aja… Harusnya gua aja waktu itu…’

Siaran Televisi, 16 Agustus 2021

Pukul 19.15 WIB.

“Siaran langsung dari channel penyiar berita terkini. Kami mendapat laporan terjadinya insiden kecelakaan tunggal mobil sedan berwarna hitam di jalan tol Jagorawi. Diduga kecelakaan terjadi karena sang sopir sedang mengantuk dan berakhir dengan terbaliknya mobil sedan hitam tersebut. Dilaporkan korban kecelakaan berjumlah tiga orang, dua pria dan satu wanita. Dilihat dari identitasnya bernama Nibras Junbi, Haris Wicak Sono, dan Nadya Putri. Kabar terbaru dari reporter kami, satu korban selamat, sedangkan dua korban lainnya dinyatakan telah meninggal dunia. Mari kita doakan semoga …………”

Comments