Tentang Alam Raya


***

Maret 2023

Angin berhembus pelan, menggerak-gerakkan ujung rambutku. Terlihat sekumpulan burung sedang terbang menuju sarang mereka. Matahari telah lelah bertengger di langit sana, meminta bulan untuk menggantikannya. Dari atas gedung sini, langit terlihat sangat tenteram. Sesekali kemeja cokelatku yang tidak dikancing terhembus angin dan melambai-lambai. Di bawah sana, jalanan terlihat sedikit padat, mungkin karena sudah memasuki jam pulang kerja. Rasanya seolah menyuruhku untuk berdiam lebih lama menikmati kota ini.

Sore ini merupakan sore terakhirku di kota ini, kota penuh keajaiban, penuh cerita, penuh pengalaman dan penuh-penuh lainnya. Esok subuh aku harus berangkat menuju kota kelahiranku, terpaksa kembali karena satu dan lain hal yang tidak dapat aku tolak. Aku juga tidak tahu apakah aku dapat kembali ke kota ini lagi atau tidak. Meskipun terdapat beberapa konflik dan pertikaian mengenai keputusanku yang ini, tapi aku yakin ini adalah jalan yang terbaik, semoga saja begitu.

Aku akan menceritakan sedikit tentangku, banyak tentangnya. Tentang senang, sedih, marah, kesal, benci, dendam, bahagia, bebas, terkurung, merasa hebat, berteman, persahabatan, kekeluargaan, dan lain-lainnya. Jika bertanya mengenai kisah apa yang sebenarnya ingin aku ceritakan, maka aku akan menyimpulkannya sebagai kisah tentang perpisahan. Memang terdengar seperti menyedihkan, tapi apa boleh buat. Jika merasa tidak tertarik dengan kisah ini silakan tutup buku ini dan cari buku lain yang dirasa menarik. Tapi, jika tertarik dengan kisah ini, maka silakan baca dengan seksama, dengan posisi yang nyaman dan kondisi yang prima.

Kalau begitu, aku mulai kisah tentangku yang sedikit ini. Semua berawal sejak tujuh tahun yang lalu.

***

September 2016

Eh, kalau begitu biar aku aja”

Sedikit tidak enak. “Beneran, nih?”

Iyaaa, udah. Yakali bohongan”

Haduuh... Jadi nggak enak, nih. Makasih, ya, terima kasih banyak”

Iya, sama-sama. Santai aja sama aku mah

Ia langsung pamit, mau angkat jemuran katanya. Aku hanya bisa mempersilakannya tanpa bisa mencegah. Memangnya siapa aku? Aku bukan siapa-siapanya. Lagipula, kata orang-orang ia telah memiliki kekasih. Apa boleh buat.

Hari semakin panas. Matahari telah berada di puncak tertingginya, bersinar terang tanpa ada awan yang menghalanginya. Terlihat sedikit mahasiswa yang berkeliaran di sekitar kampus. Mungkin mereka tahu sekarang bukanlah saatnya untuk berkeliaran. Aku yakin mereka lebih memilih rebahan di kos masing-masing sambil menghidupkan kipas angin sekencang-kencangnya. Aku juga berpikiran yang sama dengan mereka. Lalu, apa yang aku lakukan di kampus sekarang? Apa lagi kalau bukan tugas kelompok. Sepertinya aku sedikit beruntung bisa satu kelompok dengannya. Aku tidak ada maksud ingin menikung atau merebut dari kekasihnya. Aku hanya ingin bisa dekat dengannya, itu saja.

Jay, kamu liat Raya, nggak? Tadi katanya mau ketemuan sama kamu, tapi kok sekarang nggak kelihatan, ya?” Bagas, kekasih Raya—yang aku taksir itu.

Loh, tadi dia udah pamit. Mau angkat jemuran katanya”

Hah? Angkat jemuran? Sejak kapan dia nyuci baju sendiri? Biasanya juga dia nitipin baju kotornya ke tempat laundry

Waduh, aku nggak tahu kalau itu, mas. Dia bilang ke aku cuma itu aja kok”

Haduuh... Ke mana lagi nih anak, haduuh” Terlihat sedikit kesal dari mukanya.

Yaudah, Jay, sorry ya, kalau ganggu. Aku duluan” Menepuk pundakku lalu berlari kecil ke arah parkiran motor.

Aku mengangkat bahuku, entahlah, tidak ingin ikut campur. Aku segera menuju ruang dosen untuk mengumpulkan hasil tugas kelompok. Tak jauh dari tempatku berjalan terdapat tempat parkir untuk dosen-dosen. Terlihat sedikit kendaraan di sana. Yeah, sepertinya para dosen juga berpikiran yang sama dengan para mahasiswanya. Terbukti sudah bahwa siang ini adalah siang terpanas di bulan ini.

TOK! TOK! TOK!

Permisi... Maaf bu, mejanya Pak Rusdi yang mana ya?” Berusaha sesopan mungkin.

Ia langsung menunjuk ke ujung ruangan, tanpa bersuara sedikit pun.

Baik bu, terima kasih” Mengangguk sambil berlalu ke arah meja Pak Rusdi.

Pak Rusdi tidak ada di mejanya. Yeah, aku sudah tahu itu karena memang beliau sangat-sangat sibuk. Beliau sedang melakukan penelitian di luar kota hingga akhir bulan ini. Tak menunggu lama langsung ku taruh makalah kelompok di atas meja beliau. Aku rasa sudah cukup keperluanku di ruang dosen siang ini, jadi aku memutarbalikkan badanku. Sekelebat aku melihat sebuah pigura berukuran 6R terpajang di dalam lemari kaca milik Pak Rusdi. Aku terpaku sejenak melihat isi foto di dalamnya. Pak Rusdi bersama keluarganya. Tapi di sana ada satu lagi yang aku kenal. Raya.

***

November 2016

Lampu di ruangan itu—aku mengatakannya—tanggung, Tidak terang tapi juga tidak gelap. Suasana di dalamnya juga lumayan ramai. Beberapa meja dipenuhi mahasiswa-mahasiswa yang sepertinya terlihat stres. Beberapa juga dipenuhi oleh mahasiswa-mahasiswa yang rajin—membuka laptop, membaca jurnal-jurnal tebal, mencatat teori dari buku, seperti aku dan Raya saat ini di kantin fakultas. Buku-buku teori menumpuk di meja kami, jurnal dan makalah dari kakak tingkat sudah terbuka sejak dua jam yang lalu, dan di pinggir meja juga terdapat dua gelas kosong yang sebelumnya berisi kopi.

Ra, maaf ya, gara-gara anak-anak yang lain males-malesan ngerjainnya, jadinya kamu ikutan repot”

Ya ampuunn Jaaayy... HAHAHA... Kan kita satu kelompok, ngapain minta maaf sih. Aneh tauk” Sambil menepuk-nepuk pahanya geli.

Iya yah... Hehehe...” Menggaruk kepalaku yang tidak gatal.

Kami lanjut sibuk masing-masing lagi. Aku mencatat teori yang akan kami pakai dari buku-buku teori yang bertumpuk itu, sedangkan dia membaca jurnal dan makalah dari kakak tingkat, mencari referensi.

Eh, Jay, kalau pake objek kayak gini, menurutmu gimana?” Menjulurkan makalah ke hadapanku, menutupi tanganku yang sedang menulis. Mau tidak mau aku harus membacanya, syukur-syukur berkomentar.

Hhmmm... Seharusnya bisa sih. Ditandain aja dulu, nanti siapa tahu ketemu yang lain” Berusaha memberi masukan yang tidak memihak manapun.

Dia hanya mengangguk-angguk sambil mencatat judul makalah beserta halamannya. Lanjut sibuk masing-masing lagi. Tapi aku sudah tidak dapat fokus lagi. Habis sudah tenaga konsentrasiku. Akhirnya aku merebahkan badanku ke sandaran kursi sambil menutup buku dan catatanku. Dia langsung memerhatikan tingkahku.

Capek, ya?” Mimiknya terlihat prihatin.

Udah habis fokusku, udah nggak kuat konsentrasi lagi. Kalau dipaksa bisa-bisa buyar”

Yaudah, untuk hari ini kita sudahi aja” Ikut menutup makalah lalu meletakkannya di meja. Dia langsung meluruskan kedua kakinya. Rileks. Tak lama aku ikutan. Ikut rileks.

Kami saling diam, tidak ada topik pembahasan. Aku memang sedang ingin menjernihkan kepalaku dulu sambil memejamkan mata. Entah dia sedang apa, aku tidak terlalu memerhatikan. Tahun pertama, maaf, semester pertama perkuliahanku terasa sangat membebani. Terlebih sisa kelompokku seperti tidak acuh dengan tugas yang diberikan. Entahlah apa yang mereka pikirkan. Aku menghembus kasar. Berdiri merenggangkan badan sambil berjinjit. Dia memerhatikanku, tapi aku—berusaha—tidak peduli.

Beneran capek nih kelihatannya?”

Iya, semalam aku kurang tidur, lagi banyak pikiran” Mikirin kamu.

Sebanyak itu emang mikirnya?”

Iya dong! Kalau nggak dipikirin malah makin kepikiran lagi” Bisa-bisa hilang akal.

Emangnya mikirin apa sih?”

Ada deh... Hehehe...” KAAMUUUU!!

Oh, rahasia ya? Okedeh”

Nanti kamu juga bakal tahu kok” Tapi kapan? Jangan PHP!

Dia hanya diam. Aku juga ikut diam. Bingung mengambil topik. Seketika aku ingat foto di lemari kaca milik Pak Rusdi.

Eh, Ra. Waktu itu aku liat foto kamu di lemarinya Pak Rusdi. Kamu kerabatan sama Pak Rusdi?” Bertanya sehati-hati mungkin.

Dia hanya diam, tapi yang ini sambil menatap tajam ke arahku. “Iya”

Eh, maaf. Nggak nyaman ya? Ganti topik aja deh” Kikuk, merasa bersalah.

Makan aja, yuk” Sepertinya ini lebih baik.

Dia mengangguk. Baiklah. Kami berdiri lalu menuju warung nasi di kantin. Memesan.

***

Mei 2017

Aku rasa sudah saatnya mengutarakan perasaan yang mengganjal ini. Jika dilihat juga akhir-akhir ini kami menjadi semakin dekat. Kadang sampai antar-jemput. Tapi lagi-lagi aku ragu untuk mengungkapkan kepadanya karena memang posisinya dia sudah dimiliki oleh orang lain, Bagas. Tapi apa salahnya mengungkapkan perasaanku padanya. Pantas untuk dicoba.

Nggak Jay! Maaf, aku nggak bisa nerima perasaanmu” Yeah, sudah ku duga.

Maaf kalau selama ini ternyata kamu baper sama aku. Aku nggak bermaksud begitu. Aku cuman ngerasa kamu tuh... temen yang baik” Mimiknya seperti kesulitan.

Lagipula aku udah punya kekasih. Maaf. Maaf Jay”

Aku diam mendengarkan semua ucapannya. Dia juga diam sejenak, seperti sedang berpikir keras.

Gimana... mmm... Gimana kalau kastanya naik aja? Naik dari teman jadi sahabat? Mau nggak Jay?” HAHAHA... Aku sudah menduga opsi ini akan hadir.

Hhmmm... Sahabat ya? Hhmm... Boleh deh” Pasrah.

Oke, kalau begitu kita resmikan mulai hari ini kita sahabatan” Menjulurkan tangannya kepadaku sambil membuka kelingkingnya.

Siap! Sahabat” Aku membalas lalu mengaitkan kelingking kami. Pinky promise.

Yang terjadi ternyata opsi terbaik. Yeah, bisa dikatakan ini merupakan salah satu opsi terbaik dibandingkan dengan asing atau bermusuhan. Setidaknya dengan begini aku masih bisa dekat dengannya. Setidaknya status kami telah resmi, meski aku tidak terlalu senang. Setidaknya aku sudah tidak penasaran lagi.

Kala itu angin berhembus sejuk menerpa wajah kami. Dedaunan berterbangan tertiup angin. Burung-burung melayang berputar-putar di atas kami. Seekor kucing mujaer juga menghampiri bangku yang sedang kami duduki, meringkuk di atas pahaku. Aku rasa alam seperti merayakan status baru kami. Sahabat. Padahal kala itu aku masih belum mengetahui bahwa ternyata menjadi sahabatnya sama buruknya ketika belum menjadi sahabatnya.

Hai sayang! Maaf ya tadi aku dapet panggilan dari dosen pembimbing aku” Bagas datang.

Iya nggak apa-apa kali. Untung ini ada Jaya tadi kebetulan lewat, aku panggil aja buat nemenin aku di sini” Menunjukku. Aku hanya membalas senyum dan sedikit anggukan sopan.

Jay, makasih ya udah nemenin Raya sendirian di taman” Menjulur tangannya.

Iya, nggak apa-apa kok, mas Bagas. Emang lagi kebetulan aja lewat sini” Padahal aku membuntutinya supaya bisa mengungkapkan perasaanku tadi.

Eh, iya. Sayang, aku sama Jaya udah resmi jadi sahabatan. Barusan” Antusias.

Oh ya?”

Iyaaa... Tadi malah sampe pake pinky promise loh”

Wauw... Keren banget” Kepalanya bertolak ke arahku dengan tatapan selidik.

Aku sedikit kikuk. Duh... Situasi buruk nih. Aku harus cepat-cepat mengalihkannya.

Eh, maaf aku duluan ya. Baru keinget masih ada kerjaan di kosan” Berbohong.

Tak menunggu lama aku langsung pergi. Gawat. Tatapan Bagas sudah seperti itu. Aku tidak tahu harus bagaimana.

***

Januari 2018

Malam yang sunyi di minggu pertama pada bulan pertama. Hanya sedikit kendaraan yang berlalu-lalang. Tidak banyak juga orang-orang yang terlihat. Kota ini memang terlalu banyak pendatang. Ketika musim liburan mereka semua pulang ke kampungnya. Momen bersama keluarga memang berarti, tapi ada sebagian orang yang tidak menganggap itu.

Malam selalu menjadi teman merenungku. Sambil melihat jalanan kota yang sepi dengan segenggam es krim vanila. Dari kejauhan terlihat bulan sabit hampir mencapai puncaknya.

Jay” Panggilnya setelah saling berdiam.

Aku menoleh dan mendapati wajahnya yang muram. “Hhmm...?”

Dia kembali diam. Tatapan matanya kosong. Aku jadi ragu tadi dia memanggil dengan keadaan sadar atau tidak. Aku pun tidak ingin terlalu memaksanya untuk berbicara. Aku hanya ingin dia bercerita dengan kemauannya sendiri.

Sepertinya tidak ada kelanjutan dari panggilan tadi. Jadi aku memutuskan merenung kembali. Sesekali menjilat es krim yang sudah mulai mencair.

Tahu caranya menghilang nggak, Jay?” Tatapannya tetap kosong.

Yaaa... Tinggal mati aja. Terus dikubur. Dah, hilang kan?” Berusaha guyon.

Oh, begitu ya. Makasih Jay”

HEH... KOK DITANGGEPIN BENERAN?” Jujur saja aku terkejut.

Dia hanya diam—lagi. Es krim di tangannya sudah meleleh dan menetes, tidak tersentuh sama sekali. Tapi lama-kelamaan dia menangis. Pelan memang, tapi tetap terlihat.

LOH... RA! KAMU KENAPA?” Sekarang aku menjadi panik.

Tangisnya semakin menjadi. Badannya langsung menghadap ke arahku. Tatapan kosongnya sudah hilang. Yang ada sekarang hanya tatapan lelah dengan mata yang basah. Refleks aku langsung menariknya ke pelukanku. Mengelus kepalanya dengan tanganku yang lain—karena tanganku yang satunya masih memegang es krim. Sekitar lima belas menit dia menangis dalam pelukanku. Aku tidak tahu apapun penyebab dia menangis. Tapi dari tatapan matanya tadi sepertinya memang sedang butuh sandaran. Tapi sekarang sedang liburan dan Bagas pulang kampung. Aku? Liburan ini aku tidak pulang kampung dulu. Karena pertengahan bulan ini aku diajak Pak Rusdi ikut penelitiannya. Kedua orang tuaku juga menyetujui jika aku ikut penelitian bersama Pak Rusdi. Jadi, apa boleh buat.

Setelah tangisnya mereda dia langsung mengajak pergi dari tempat itu. Cari angin katanya. Baiklah. Mungkin memang bukan sekarang waktunya dia bercerita. Aku akan tetap menunggu. Tak apa jika malam-malamku ke depannya akan terus penasaran dan merajuk meminta penjelasan pada otakku sendiri. Tak apa jika aku harus menunggu lagi dan lagi, meski terasa tidak pasti. Tak apa. Yang penting dia nyaman dan tidak sedih lagi. Aku rela.

Jay...” Panggilannya menggantung. Aku diam menunggu.

Tolong jangan kasih tahu ke dia ya” Yeah, aku sudah mengerti ‘dia’ yang dia maksud siapa. Siapa lagi kalau bukan Bagas.

Akhir-akhir ini dia lumayan sering mengatakan itu. ‘Jangan kasih tahu dia ya’, ‘Dia jangan sampe tahu’, ‘jangan bocorin ke dia ya, Jay’. Hingga kadang aku heran kekasih yang sebenarnya tuh siapa sih? Aku atau Bagas? Apa dia dengan Bagas hanya senang-senangnya saja? Sedangkan bersamaku hanya sedih-sedihnya saja? Dasar. Kamu beruntung Bagas, dia tidak terlihat sedih di hadapanmu—karena memang sedihnya sudah diluapkan kepadaku. Sialan kamu Bagas!

Jay, mampir situ yuk!” Sambil menunjuk.

Aku menoleh ke arah yang dia tunjuk. Sebuah bangku yang diterangi lampu jalan. Sekitarnya terlihat sepi. Aku rasa itu tempat yang bagus—setelah kedinginan melawan angin malam.

Boleh” Balasku sambil memarkirkan motor di dekat bangku.

Lalu malam itu kami habiskan dengan obrolan ngalor-ngidul hingga canda-tawa. Tak jarang juga dia membawa gosip-gosip hangat dari kampus—yeah aku tidak terlalu mengikuti gosip-gosip kampus. Wajahnya saat ini sudah ceria lagi. Aku senang melihatnya. Awan mendung di matanya telah lenyap, meski ada kemungkinan awan itu akan datang lagi. Tapi untuk saat ini setidaknya dia sudah ceria lagi. Hingga tak terasa sudah hampir pagi. Sudah saatnya pulang. Aku antar dia ke kosnya. Aku juga pulang ke kosku.

Di kos aku tidak bisa tidur. Masih terngiang kejadian tadi. Bertanya dan terus bertanya di kepala. Mencoba menghubungkan berbagai hal meski hanya spekulasi-spekulasi. Meski tak menemukan jawabannya.

***

Januari 2018

Siang semakin terik. Langit di atas sana sedang cerah-cerahnya. Untung saja di dalam mobil sedang menggunakan AC. Jadi tidak terasa teriknya matahari. Justru yang sedang kami geluti sekarang adalah kemacetan. Sudah satu jam kami terjebak macet. Entahlah. Kata pengendara lain ada yang kecelakaan. Untung saja radio di dalam mobil terus menyala, mengusir kebosanan. Katanya cuaca hari ini akan terus terik hingga menjelang sore. Nanti sore baru akan turun hujan.

Wah, ini macet sampe kapan, ya?” Pak Rusdi mencoba memecah keheningan di antara kami.

Waduh, nggak tahu saya pak” Menjawab sewajarnya.

Suara klakson sudah bersahut-sahutan sejak tadi. Banyak yang sudah tidak sabar dengan macet ini. Aku teringat satu topik, tapi aku ragu. Melirik ke arah Pak Rusdi sambil menimbang-nimbang. Ah, sudahlah. Sudah kepalang penasaran.

Pak...” Melirik ke wajahnya. Membaca situasi.

Waktu itu saya ke meja bapak...” Masih mencoba berkalkulasi keadaan.

Saya waktu itu lihat foto di lemari bapak...” Raut wajahnya berubah. Gawat.

Dan di situ ada Raya. Bapak kerabat Raya, ya?” Terluapkan sudah. Tapi Pak Rusdi hanya diam. Wajahnya kini datar. Menatap lurus ke jalanan—yang macet itu.

Wah, sepertinya sebuah kesalahan juga membawa topik itu, seperti waktu itu ke Raya. Duh, aku harus cepat mencari topik lainnya sebelum situasi semakin canggung. Ayolah! Ayolah! Berpikir! Cari topik! Cari topik! Aha!

Eeemm—”

Raya itu anak tiri saya” Wajahnya masih datar. Diam sejenak.

Dia anak tunggal dari keluarga kecil yang sedang terjerat hutang di mana-mana. Saat itu dia masih berumur tujuh tahun ketika ayah kandungnya ditemukan meninggal. Ibunya tertatih membanting tulang demi menghidupi Raya. Sekitar tiga tahun mereka hidup di jalanan tanpa kepastian apa-apa, karena memang semua barang, aset, dan harta disita oleh pihak penagih hutang. Saat itu saya sudah menjadi dosen di sini. Masih muda saya waktu itu. Masih suka bolak-balik naik gunung, hehehe...” Mencoba sedikit mencairkan suasana. Tak lama ia melanjutkan.

Pada satu ketika saya bertemu dengan ibunya Raya. Waktu itu hujan lagi deras-derasnya. Saya bertemu ibunya Raya di halte bus. Ceritanya kayak lagi kejebak hujan gitu. Romantis kan, hehehe...” Sambil menyenggol bahuku.

Saya emang lagi kurang kerjaan aja, jalan muter-muter keliling kota. Pas hujan saya neduh di sana. Saya telpon teman saya buat jemput pakai mobil. Tak lama ibunya Raya ikut neduh juga, cuman dia bawa payung. Tujuan dia memang nunggu bus buat arah pulang. Ya biar nggak kaku akhirnya saya basa-basi aja, kan. Lumayan banyak ngobrol sampai-sampai teman saya udah dateng. Saya tawari dia buat ikut dengan saya dan ternyata memang searah. Mulai dari situ saya mulai dekat dengan ibunya Raya. Mulai sering ketemu, sering bercengkerama, kalau di sekarang itu apa namanya? Hang out ya? Iya, pokoknya itu” Meneguk air.

Yaaa singkat ceritanya saya memutuskan untuk menjadikannya istri sekaligus menjadikan Raya putri saya. Waktu itu Raya udah kelas enam SD”

Pak Rusdi terus bercerita hingga tak terasa macet tadi telah terurai menjadi lancar. Hari ini akhirnya aku mengetahui fakta kelam kehidupan Raya. Ternyata sepedih itu luka yang dia simpan sendiri—aku yakin dia tidak menceritakan ini ke Bagas. Akhirnya semua masuk akal, semua menjadi terhubung, tidak lagi menebak-nebak. Rangkaian demi rangkaian dapat aku uraikan sendiri. Sialan kamu Bagas!

Eh, pacarnya Raya itu siapa, ya? Kating kamu bukan Jay? Siapa namanya?”

Oh, Bagas pak. Mas Bagas. Iya, dia kating saya tapi beda jurusan”

Oalah Bagas toh” Hanya manggut-manggut.

Saya kok kayak kurang suka ya sama si Bagas-Bagas ini. Kayak nggak percaya gitu kalau anak saya sama dia. Saya malah lebih percaya sama kamu. Eh, kamu dekat kan sama Raya?”

Iya, saya sahabatan sama Raya”

Ooh, bagus tuh sahabat” Manggut-manggut lagi.

Sedikit senang karena Pak Rusdi mempercayaiku dengan Raya tapi juga sedikit sakit hati karena Pak Rusdi menyetujui hubunganku dengan Raya hanya sebatas sahabat. Ah, sudahlah. Perjalanan masih jauh—secara harfiah maupun secara kiasan. Tak perlu dipikirkan semuanya secara bersamaan. Aku tebak juga perjalanan kami—aku dan Pak Rusdi, akan memakan waktu lama. Makanya beliau menjadwalkannya di hari libur.

***

November 2018

Aku dan Raya sedang berada di taman fakultas. Aku sedang mengerjakan tugas individuku yang sebentar lagi tenggat waktunya. Sedangkan dia? Entahlah. Sejak kami duduk di bangku taman ini hingga sekarang dia tetap menatap kosong ke arah laptopku. Jajanan yang tadi habis dibeli juga tidak tersentuh olehnya. Baiklah, waktunya fokus sebelum tenggatnya lewat. Sekitar satu jam aku fokus mengerjakan tugas. Belum selesai semua tapi setidaknya sudah hampir selesai. Tinggal sedikit lagi. Tapi sekarang waktunya kelas. Bukan, bukan kelasku, kelasnya Raya.

Yeah, sudah sekitar tiga bulan ini aku menemaninya di kelasnya atau terkadang dia yang menemaniku di kelasku. Keadaannya selalu seperti itu selama tiga bulan terakhir. Bengong, tatapan kosong, melamun, entah apa yang ada di kepalanya. Aku kasihan dengannya. Memang dasar Bagas si Berengsek. Sudah tahu dia memiliki masa lalu yang kelam—oh tentu dia tidak tahu, dasar Bagas sialan—malah menambah luka lagi di hatinya. Dasar tidak tahu malu. Berselingkuh dengan rekan satu KKN secara terang-terangan. Pantas sekarang dia selalu melamun, bahkan untuk makan saja perlu diingatkan terus.

Mau tidak mau aku harus menjaganya, takut terjadi hal yang tidak-tidak padanya. Sebulan yang lalu Pak Rusdi menanyakan perihal apa yang membuatnya seperti itu. Aku jelaskan saja kepada beliau kenapa. Beliau—lagi-lagi—hanya manggut-manggut. Katanya beliau dapat laporan dari istrinya—yang tidak lain merupakan ibunya Raya, katanya chat-chatnya tidak dibalas sama sekali. Entahlah. Aku rasa dia memang sudah seruntuh itu. Aku semakin khawatir saja tiap malamnya. Takut dia melakukan yang tidak-tidak, apalagi dia tinggalnya pisah dengan orang tuanya, di kos. Semakin khawatir lagi saja.

Kemungkinan juga aku harus mencatatkan materi di bukunya nanti, seperti sebelum-sebelumnya. Beberapa dosen sudah menyadari keberadaanku atau dia ketika memang bukan kelasnya. Biarlah. Toh di kelas pun aku tidak macam-macam. Hanya mencatat dan mencarikannya kelompok, jika diperintahkan membentuk kelompok. Aku hanya berharap kepedihannya cepat berangsur. Meskipun aku semakin punya banyak waktu bersamanya tapi bukan seperti ini yang aku mau. Si periang yang kadang suka jail sekarang hanya melamun dan tak bersuara. Menyaksikan perubahan itu justru semakin membuatku terpuruk juga. Seakan lukanya juga dapat aku rasakan.

Kelas berlalu dengan cepat. Aku memutuskan kembali ke bangku taman tadi, melanjutkan tugasku. Bisa dipastikan dia hanya mengekori di belakangku. Yeah, setidaknya dia masih di sekitarku. Kekhawatiranku berkurang satu.

Sip! Akhirnya kelar juga nih tugas” Sambil duduk aku merenggangkan badanku.

Laper nggak, Ra?” Dia masih melamun.

Ra, OI! Laper nggak?” Baru sadar dan hanya menjawab dengan anggukan.

Okeh... Makan apa kita?” Yang aku tanya hanya menaikkan bahunya.

Hhmmm... Gimana kalo kita masak aja? Di kosku?”

Masak apa?” Akhirnya bersuara juga tuh manusia.

Yaaa... Apa kek. Liat-liat aja dulu ke tukang sayur” Sahutku sekenanya.

Dia setuju. Strategi memasak selalu berhasil. Yeah, memang itu merupakan salah satu kesukaannya. Setidaknya saat ini aku sudah memancing jiwanya untuk keluar dari kurungan itu. Tapi tetap saja aku masih banyak penasaran mengenai keadaannya. Setiap aku tanya kondisinya dia hanya menjawab ‘aman kok’ dan seakan kalimat itu membuatku puas. Tapi lagi-lagi aku tidak dapat memaksanya untuk bercerita. Aku bukan tipikal orang yang posesif. Jadi, begitulah. Tiap malam aku hanya dapat bertanya-tanya ke otakku—lagi. Mencoba merangkai semua hal yang bersangkutan—lagi. Meskipun lelah. Meskipun sia-sia. Tapi setidaknya aku dapat membatasi diriku sendiri agar tidak gegabah.

Gimana kalo kita masak sop ayam, Jay?” Intonasinya terdengar antusias. Baguslah.

Boleh tuh”

Okeh... Langsung cus Jay! Tancap gasmu dengan segenap jiwa!”

Hahaha... Siap, Bu Komandan!” Mematuhinya.

Baguslah. Suasana hatinya kini sudah membaik. Untuk saat ini aku dapat bernapas lega—meski hanya sejenak. Semoga saja memang sudah pulih, bukan terdistraksi. Semoga saja.

***

Oktober 2019

Jay, nanti ketemuan di tempat biasa, ya” Ucapnya lewat telepon.

Siap, Bu Komandan! Ada yang diperluin lagi nggak?”

Udah, aku udah siapin semua sih” Dengan intonasi yakin.

Oke deh”

Kami sudah merencanakan ini selama sebulan. Pergi piknik di liburan akhir pekan. Yeah, terasa terlalu serius bukan? Mau bagaimana lagi, namanya juga Raya. Kalau tidak seperti itu namanya bukan Raya. Tempatnya pun tidak terlalu jauh. Hanya sekitar lima belas menit perjalanan dari kampus. Dari ulasannya terlihat bagus dan murah. Jadi kenapa tidak?

Aku segera menjemputnya di tempat biasa aku jemput dia, dekat mini market dekat kosnya. Terlihat dia membawa rantang kaleng dan botol besar. Sepertinya dia masak banyak. Aku tidak dikabari jika dia memasak banyak, mungkin ingin kejutan. Perjalanan kami isi dengan bernyanyi bersama—meski suaraku sumbang. Menyanyikan lagu-lagu yang kami kenal.

Sesampai di tempat piknik, kami langsung mancari tempat untuk menggelar alas. Sudah tak sabar memakan masakannya. Akhirnya dapat tempatnya di dekat pohon. Lumayan rimbun. Jadi tidak terlalu panas. Sekitar lima belas menit merapikan barang lalu makan. Sambil terus mengobrol tentang apa saja. Kadang diselipi candaan. Kadang juga keluh kesah.

Aku bersyukur dia telah ceria lagi—sejak insiden setahun lalu. Sudah kembali menjadi Raya yang aku kenal dulu. Meskipun di matanya masih ada sisa-sisa lelah. Setidaknya rasa khawatirku mulai berkurang seiring perkembangannya menjadi periang lagi. Tapi masih ada satu yang mengganjal di benakku. Aku ingin menanyakannya sekarang juga tapi aku takut malah merusak suasana. Ah, tidak jadi deh. Melihatnya ceria lagi saja sudah cukup bagiku. Tapi... Aaarrghh, jangan! Tapi penasaran.

Kenapa Jay?” Tatapannya menyelidik.

Hah? Kenapa apanya?” Kembali sadar. Ayo hilangkan pikiran itu!

Muka kamu kayak lagi mikirin sesuatu. Kayak lagi banyak mikir gitu. Emangnya kamu lagi mikirin apa?” Wah, gawat. Dia menyadarinya.

Eemmm...” Aduuuuhh... Bagaimana ini.

Heh! Jangan bikin orang mati penasaran. Dosa tauk bikin orang penasaran tuh”

Jadi...” Haruskah aku utarakan sekarang?

Aku...” Matanya mengerjap-ngerjap penasaran.

Lagi mikirin...” Hah, sudahlah. Cepat atau lambat akan terbongkar juga bukan?

Jadi, aku akhir-akhir ini mikir kamu kayak kurang percaya banget sama aku. Aku ngerasa kayak masih belum seutuhnya jadi sahabat yang sebenarnya”

Hah? Kok gitu?” Mimiknya penuh penolakan.

Soalnya akhir-akhir ini aku perhatiin kamu kayak merasa sok kuat. Merasa bisa menanggungnya sendiri. Padahal aku selalu menyadarinya hanya lewat mata kamu doang”

Ah, nggak usah ngawur Jay!” Menepuk pahaku pelan.

Aku tahu semua” Kalimat itu berhasil membuatnya terdiam.

Ka-kamu tahu a-apa?” Kini tatapannya menjadi takut.

Tentang Pak Rusdi, tentang ayah kamu. Aku turut berduka ya. Semoga diterima di sisi-Nya” Akhirnya keluar sudah rasa yang mengganjal ini.

Dia terdiam—benar-benar terdiam. Ekspresinya sulit dimengerti, entah takut, entah sedih, entah marah, entah apa itu. Seperti mencampur. Tiba-tiba dia menatapku dengan tatapan itu. Tatapan yang membuatku khawatir. Tangisnya menyusul kemudian. Tubuhnya bergetar hebat. Sepertinya dia telah menahan-nahan tangis itu entah sejak kapan. Aku refleks mendekatinya. Melihat sekitar takutnya dilihat orang-orang sambil menepuk-nepuk pelan pundaknya, berusaha menenangkan. Tapi respon dia malah memelukku dengan erat—jujur saja aku kaget. Ah, sudah seperti ini akan sulit deh. Aku balas memeluknya sambil mengusap-usap pelan punggungnya. Sekitar, entahlah, dia menangis terlalu lama. Orang-orang yang melihat kami hanya terheran-heran. Aku hanya dapat membalas mereka dengan senyuman saja. Habis, mau bagaimana lagi?

Dia menceritakan semua yang selama ini di pendamnya sendirian—setelah selesai menangis tentunya. Ternyata ayahnya meninggal bukan karena penyakit atau kecelakaan—yang mana aku kira begitu. Ayahnya meninggal menggantung diri di dapur tempat tinggalnya dulu. Aku mendengarnya sangat sedih, terlebih saat itu dia masih kecil, masih terlalu dini untuk mengerti kerumitan dunia. Saat di sekolah dulu dia di rundung karena tidak memiliki bapak, dikata-katai bapaknya terbang di dapur. Mendengarnya aku menjadi geram. Jika saja saat itu aku bersekolah di tempat yang sama dengannya, sudah pasti orang-orang yang merundungnya akan aku libas semua. Mereka tidak mengerti sama sekali apa yang telah dialami olehnya, begitu juga dengan Bagas si Bajingan itu. Sumpah akan aku pukul jika bertemu dengan Bagas dengan wajah cengangas-cengengesnya itu. Seakan dia tidak merasa bersalah sama sekali. Sisa ceritanya mirip-mirip dengan yang diceritakan Pak Rusdi sebelumnya.

Telah begitu banyak luka dan kekecewaan yang dialaminya, bahkan sejak kecil. Tatkala anak-anak lain seumurannya waktu itu hanya tahu bermain layang-layang dan petak umpet, dia telah melihat kekejaman dunia. Aku semakin merasa kasihan dengannya. Rasanya ingin terus berada di sisinya. Ingin menjaganya terus aman dari kejamnya dunia. Ingin menggantikannya menahan sayatan-sayatan pahit yang sebelumnya ia tanggung sendirian. Ingin memilikinya. Tapi apa daya. Kami hanya sahabat. Disahkan dengan pinky promise di taman waktu itu. Yang tersisa hanya menerima dan mengusahakan semaksimal mungkin persahabatan ini.

Kamu nggak sendirian lagi Ra. Sekarang ada aku, sahabat kamu. Kalo ada apa-apa kamu bisa cerita ke aku, ya?” Menatapnya mencoba meyakinkan.

Makasih, Jay. Kamu emang temen yang baik banget. Berntung aku bisa kenal kamu”

Kok temen sih. Sahabat!”

Iya iya, sahabat. Kamu sahabat terbaik aku” Terkekeh.

***

Maret 2021

Hari kelulusanku. Semua hadir merayakan. Begitu juga dengan Raya. Dia malah membawa buket bunga yang besar. Jadi sangat mencolok dibanding buket-buket lainnya. Katanya biar ketahuan kalau itu buket pemberiannya.

Oh iya, akhir-akhir ini hubunganku dengannya semakin membaik. Dia malah jadi lebih cerewet lagi karena semua-semuanya diceritakan. Tapi aku tidak mempermasalahkan itu sih. Sempat juga di pertengahan tahun lalu Bagas berusaha mendekatinya lagi. Sigap saja aku halau dan interogasi. Katanya sudah putus dengan pacarnya—yang selingkuhannya itu loh. Lalu kenapa? Apakah Raya menjadi pelariannya? Oh tentu tidak. Tidak akan aku biarkan. Aku terangkan saja kondisinya tahun-tahun lalu, ketika Bagas mencampakkannya. Semua berlalu dengan sangat-sangat pahit. Bagas akhirnya mengakui kesalahannya waktu itu. Tapi pengakuannya sudah terlanjur basi. Anaknya sudah move on. Jadi, kedatangan Bagas hanya membuka jahitan yang telah susah payah aku sulam. Tidak. Tidak aku beri kesempatan Bagas untuk mendekatinya. Aku tegaskan pula kepadanya kalau dia menampakkan hidungnya lagi, aku tidak akan sungkan-sungkan untuk bermain tangan.

Ah, sudah lah. Ini hari kelulusanku. Semua orang tampak bahagia.

Heh! Bengong aja. Mikirin apa sih?” Duduk di sebelahku.

Ah, nggak. Cuman kepikiran aja, aku lulusnya kecepetan nggak ya?” Meledek.

Ihh sombong banget” Menyikut lenganku.

Habis ini ngapain ya, Ra?”

Makan siang! Nih, perutku udah laper parah” Menunjuk perutnya.

Yeee bukan itu, yang lain” Menatapnya gelisah.

Yaaa cari kerja, terus pindah ke apartemen biar aku bisa main-main ke sana, ganti motor juga, udah butut itu motor” Cecarnya bertubi-tubi.

Ya, ya, ya. Siap, Bu Komandan!” Mengangkat tangan hormat.

Dia hari ini terlihat senang. Aku juga senang melihatnya senang. Meskipun mata kuliahnya banyak yang mengulang. Tapi dia tahu kalau aku akan selalu menemaninya. Aku juga sudah menceritakan rencanaku untuk bekerja di sini. Padahal banyak tawaran-tawaran menarik untuk bekerja di tempat kelahiranku, tapi aku masih ingin bertahan dulu di sini, untuknya.

***

Mei 2021

Pagi yang cukup cerah untuk menjalani rutinitas baruku. Yeah, aku diterima kerja oleh salah satu penyiar TV. Jika dipikir-pikir lagi ini belum tengah tahun atau belum pergantian tahun akademik. Tapi aku sudah diterima kerja. Mungkin mereka memang sedang membutuhkan karyawan. Lagipula aku pernah magang di penyiar TV ini, jadi itu bisa menjadi salah satu perhitungannya.

Raya? Dia sedang bergelut bersama adik tingkat. Mengulang mata kuliah yang tertinggal. Akhir-akhir ini dia lumayan sering mampir ke kosanku. Membawa laptop dan buku teori yang dipinjamnya dari perpustakaan kampus. Katanya mau belajar sekalian diajari sama alumni—hehe. Baiklah jika memang itu mau dia, apa boleh buat.

Semakin ke sini sikapnya kepadaku semakin manja. Seperti adik yang meminta es krim kepada kakaknya. Biarlah, mungkin seperti itu sikapnya ketika bersama Bagas dulu. Aku tidak terlalu memusingkan itu. Yang aku pusingkan adalah kelakuan dia yang kadang meminta untuk menginap di kosanku. Lah, kosanku bukan kos campur alias kos putra. Bahkan kunjungan lawan jenis saja sangat dibatasi, apalagi untuk menginap. Jika mood-nya sedang jelek dia akan tantrum dan semakin bingung lagi aku menghadapinya. Kini dia benar-benar seperti menjadi anak kecil di hadapanku. Tidak hanya perihal menginap di kosku, bahkan seremeh membeli gulali ketika dia sakit gigi dan demam saja seperti cacing kepanasan jika aku tolak permintaannya. Haduuhh... Kini jadi bertambah satu lagi orang yang harus aku anggap sebagai adik—yang manja. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa menyalahkannya. Mau bagaimana lagi kalau memang itu sifatnya ketika sudah menemukan “sandarannya”.

Ah, sudahlah. Hari ini jadwalku lumayan padat. Selesai kerja di siaran TV nanti aku langsung ke SMP dekat kampus. Aku ingin melamar menjadi guru seni atau guru musik. Sepertinya akan asyik jika bisa gitaran di kelas sambil bernyanyi bersama anak-anak. Nanti sebelum matahari terbenam juga aku harus menjemput Raya. Aku ingin melihat-lihat apartemen bersamanya—benar-benar hanya lihat-lihat, belum punya uang soalnya. Setidaknya dengan aku mengajaknya aku tidak perlu menilai apartemen itu sendirian.

Ponselku berdering. Panggilan dari Bu Komandan. Raya. Aku sudahi lamunan pagi ini lalu mengangkat panggilan.

Jay! Kamu di mana?! Ini aku udah hampir telat” Intonasinya sedikit panik.

Eh! Iya. Sorry, sorry. Ini aku otewe”

Hiiihh... Buruan ah!” Sedikit membentak.

Iya, iya. Siap, Bu Komandan!”

Baiklah. Bu Komandan sudah memanggil. Aku segera mengemasi tas, tak lupa memasukkan CV untuk wawancara di SMP nanti. Mengambil kunci motor, lalu berangkat menjemputnya.

***

Desember 2021

Hari ini aku touring ke luar kota dengan motor berdua dengan Raya. Dalam rangka aku sudah memiliki motor baru dan juga seminar proposal miliknya diterima. Aku sudah mengusulkan agenda touring ini sejak seminggu yang lalu. Awalnya hanya celetukan tapi itu dianggap serius olehnya. Katanya akan asyik jika pergi-pergi berduaan.

Sepanjang perjalanan juga ocehannya tak terbendung. Semua dibahas olehnya, bahkan jalanan yang berlubang dia cemooh-cemoohi. Aku hanya bisa berkomentar seadanya saja. Beberapa kali juga dia memelukku dari belakang. Padahal aku juga membawa ransel, tapi dia tetap memaksa memelukku. Biarlah, dia sudah aku anggap seperti bocah manja.

Sekarang kami sedang menepi di mini market untuk rehat sejenak. Dia masih belum terbiasa dengan perjalanan jauh menggunakan motor. Seperti biasa dia membeli es krim kesukaannya. Sesekali kepalanya digoyang-goyangkan setelah menjilat es krim. Aku hanya duduk-duduk saja, menghemat uang untuk bensin sepanjang perjalanan.

Ini masih jauh Jay?” Tanyanya sambil menjilat es krimnya.

Lumayan. Perkiraan sekitar satu jam lagi”

Duuhh... Jauh banget ya?” Cemberut.

Kita jalannya nyantai aja, Ra. Ntar juga nggak kerasa udah nyampe” Menenangkannya.

Tak lama kami lanjutkan lagi perjalanan. Dia meminta ranselku digendong terbalik, menghadap ke depan bukan belakang. Katanya agar leluasa memelukku selama perjalanan. Aku menolak dengan alasan menjaga batasan, agar tidak memunculkan kesalahpahaman. Tapi dia malah marah-marah dan merajuk. Ahh... Selalu seperti ini. Akhirnya aku mengalah.

Sepanjang perjalanan juga kami banyak mengobrol. Membahas apapun yang terlintas di kepala kami. Mulai dari pembahasan mata kuliah, cuaca, dosen, parfum, bahkan harga sayur-mayur juga dibahas. Semuanya mengalir begitu saja. Sesekali dia mengeratkan pelukannya. Awalnya aku tidak begitu nyaman. Tapi aku membayangkan wajah merajuknya jika aku keberatan. Ah... Biar saja.

Jay...” Panggilnya menggantung.

Hhmmm...” Sahutku sekenanya.

Nanti kamu pulangnya lama nggak?” Yeah, aku akan pulang kampung akhir bulan nanti.

Yaaa paling sampe tanggal sepuluh. Kenapa emangnya, Ra?”

Nggak, nggak apa-apa” Intonasinya aneh. Entah takut, entah sedih, entahlah.

Ayolah. Seharusnya hari ini menjadi hari yang menyenangkan. Mendengar intonasi itu hanya membuatku terus tidak bisa tidur. Mengaitkan antara ucapan dan intonasinya. Menghubungkan makna dari perkataannya. Aneh rasanya. Padahal dia sudah sangat ceria. Sudah melampaui dirinya yang dulu—yaa meski tidak jarang juga merajuknya. Tapi ucapan dan intonasinya barusan, seakan memberi tahu aku ada sesuatu yang tidak beres. Apa ini? Kenapa dia?

***

Februari 2022

Tutup dulu matanya!” Sedikit membentak. Segera menutup mataku.

Hitungan ke tiga buka mata, ya?” Aku hanya mengangguk.

Satu... Dua... Tiga... Buka matanyaaa!” Dengan intonasi cerianya.

Eh—” Sedikit kikuk menerima hadiahnya.

Ini dalam rangka apa Ra ngasih-ngasih cokelat?” Meski aku tahu hari ini hari apa, aku hanya ingin memastikan.

Kan sekarang 14 Februari. Aku mau ngasih cokelat aja ke kamu. Nggak mau?” Matanya berbinar-binar. Duh, benar dugaanku.

Ma-mau laah. Dikasih masa nggak diterima. Mubazir” Menyimpannya.

Sekarang dari kamu dong. Mana?”

Eumm... Aku belom beli... Hehehe” Sambil menggaruk kepalaku. Aku tidak tahu jika dia benar-benar melakukannya. Aku kira hanya dugaanku saja.

Yaaah” Cemberut. “Eh, tapi aku boleh request dong?” Pasrah sambil mengangguk.

Yaudah, aku mau dibeliin baju couple aja” Kini matanya lebih berbinar lagi.

***

April 2022

Malam memang sudah menjadi temanku sejak lama, tapi bukan malam ini. Raya mengajakku ke pasar malam dekat rumahnya. Ingin mencoba wahana-wahana bersamaku. Dia juga memintaku menggunakan baju couple-nya, biar seragaman katanya. Sejujurnya aku lumayan takut dengan beberapa wahana di pasar malam. Beberapa juga membuatku mual. Tapi akan sangat bodoh jika aku menunjukkan itu ke dia ketika sedang gembira-gembiranya. Beberapa jajanan juga kami jejali. Gulali, jagung bakar, es krim, dan minuman manis. Untungnya itu semua sudah berlalu sejak sepuluh menit yang lalu. Sekarang kami sedang duduk di pinggir trotoar menghadap pasar malam. Aku memutuskan membeli es krim lagi—rasa muntah di mulutku masih belum hilang soalnya. Di sana kami bernostalgia—lebih tepatnya aku yang bernostalgia—ketika kecil dulu diajak ke wahana-wahana seperti ini, namun lebih canggih lagi karena memang berada di tengah kota. Sejak itulah aku menjadi takut dengan beberapa wahana seperti tadi.

Es krimku sudah hampir habis. Tapi pembahasan kami belum selesai. Sekarang semakin melebar ke mainan favorit ketika kecil. Aku mengangkat cup es krim lalu menyeruput sisa yang ada. Cerita darinya tiba-tiba berhenti ketika aku selesai menghabiskan es krimku dan beralih melihatku. Aku tidak tahu apa-apa jadi aku hanya tersenyum saja ke dia, seperti bocah selesai makan. Dia membalas senyum lalu mengambil sehelai tisu dari tasnya. Pelan tapi pasti gerakannya mengusap sisa es krim yang menempel di sekitar bibirku. Seolah gerak tangannya sudah yakin, tidak ragu-ragu. Sontak aku terkejut serta bingung bereaksi seperti apa. Keadaan menjadi canggung setelahnya. Aku pun juga tidak tahu harus bagaimana. Kini wajahnya terliat sedikit merona, seperti tersadar perlakuannya tadi dan menjadi malu.

Ehem... Kamu makan es krim kayak masih bocah aja sih, belepotan!” Ucapnya.

Hehehe...” Tidak tahu harus merespon apa.

Suasana kembali canggung. Aku melihat wajahnya yang semakin merona sekarang. Angin menerpa wajah kami dengan lembut. Semakin ke sini aku melihatnya menjadi semakin cantik saja—ah bisa aja.

Heh! Ngeliatin apaan kamu, hah?” Intonasinya sedikit membentak tapi wajahnya masih tersipu.

Eh... Nggak” Duh ketahuan deh.

Udahan yuk! Udah makin malem” Berdiri menepuk-nepuk tangan.

Boleh. Mau ke mana?” Ikut berdiri.

Pulang lah. Emangnya mau ke mana lagi?”

Okeh, siap Bu Komandan!” Mengangkat tangan hormat.

***

Juli 2022

Angin bertiup kencang. Aku segera merapatkan jaketku agar tidak kedinginan. Sesekali menyeruput segelas susu yang mulai dingin. Bising jangkrik terdengar bersahut-sahutan dari sini. Langit malam kini sedang bersih-bersihnya, jadi aku dapat menyaksikan bintang-bintang. Rasanya duduk berjam-jam tidak terasa jika berada di situasi seperti ini. Aku selalu suka dengan malam. Menurutku malam merupakan tempat pelampiasan hati kepada langit yang luas. Merenungkan semua pikiran terpendam bersama bintang-bintang. Menerbangkan tanya-jawab lewat hembusan angin, berharap terbalas. Tempat mengutarakan rindu pada kekosongan. Seakan semua terasa memungkinkan.

Entah sudah hembusan napas yang ke berapa. Entah sudah gelas susu yang ke berapa. Entahlah. Malam ini terasa semakin berat saja. Semua peristiwa, semua petunjuk, semua sebab-akibat, semuanya berkumpul pada malam ini untuk aku renungkan.

TRIING!!

Notifikasi masuk. Tertera nama pengirimnya, Bu Komandan. Katanya minta besok berangkat bersama ke sekolah. Yap! Dia melamar menjadi guru juga di sana. Bedanya dia menjadi wali kelas langsung, sedangkan aku hanya guru musik saja. Besok merupakan hari pertamanya masuk kerja sebagai guru. Dia sejak minggu lalu sudah cemas jika nanti anak-anak tidak menurut atau malah dia menjadi guru yang tidak disukai. Cih! Aku bakan meragukan kecemasannya. Tidak mungkin anak-anak membencinya. Aku jamin begitu. Yang aku cemaskan bukan itu, tapi ke depannya. Kemungkinan pertemuan kami akan sering terjadi.

Bukannya aku tidak ingin bertemu dengannya. Justru aku suka dengan gagasan itu. Aku hanya ingin memberi ruang pada hatiku. Lelah rasanya untuk terus berpura-pura, terlebih di hadapannya. Nyatanya perasaan ini masih tumbuh subur dalam tabung hati yang terkurung oleh pinky promise waktu itu. Meskipun sudah berkali-kali telah aku bunuh rasa itu sejak lama, tapi semakin aku tebang perasaan itu justru semakin subur lagi. Apalagi akhir-akhir ini sikapnya menjadi seperti itu, semakin intim—aku rasa begitu. Jujur aku tidak tahu harus bagaimana. Dia yang meminta hubungan persahabatan ini tapi akhir-akhir ini seolah dia meminta lebih. Tidakkah dia tahu betapa pahitnya ketika perasaanku ditolak olehnya? Tidakkah dia tahu betapa sulitnya bertingkah biasa saja ketika sedang bersamanya? Tiap malam aku selalu menghadap langit malam. Mengeluhkan segalanya. Memendam semuanya sendirian.

Aku masih berusaha tegar dan tegap memegang janji itu, meski terkadang beberapa tatapan atau perlakuanku yang suka terlewat. Masih berusaha untuk tidak melanggar janji itu, meski aku tahu itu akan sangat sulit. Sedangkan dia? Entahlah apakah dia masih ingat janji kami waktu itu.

Haaahh... Ngerepotin aja sih kamu, Ra” Berbicara kepada angin.

Aku masih ingat betul ketika dia sedang rapuh-rapuhnya setelah dikhianati oleh Bagas. Dia mengatakan kalau sudah tidak ingin memiliki hubungan romansa lagi. Dia mengatakannya dengan lantang kepada hamparan rumput kala itu. Kini aku bingung, apakah ucapannya waktu itu benar-benar sebuah sumpah atau hanya omong kosong belaka? Apa karena waktu itu dia sedang terpuruk-terpuruknya hingga mengucapkan sumpah seperti itu? Bisa jadi. Namun, apakah sekarang tandanya dia sudah pulih dari keterpurukannya? Entahlah, aku tidak tahu. Tapi jika dilihat dari gelagatnya seperti sudah pulih.

Kenapa sekarang menjadi begitu rumit? Kenapa baru sekarang terlihat benang kusutnya? Aku tidak pernah meminta keadaan menjadi seperti ini. Hanya sesederhana ingin berada di dekatnya dan menjaganya. Aah... Sepertinya mulai masuk akal jika aku diberi beban seperti ini. Mungkin itulah harganya untuk bisa dekat dan menjaganya. Aahh... Entahlah. Aku sendiri masih bingung, masih terlalu kusut untuk menyimpulkannya.

Malam semakin larut dan aku masih tetap terjaga. Terima kasih kepadanya karena sudah membuatku susah tidur. Jangkrik di luar sana masih setia menemaniku lewat operanya. Bintang-bintang juga masih di sana meski sudah bergeser beberapa senti. Gelas susu yang tadi aku genggam sudah kosong dan tergeletak di atas lantai. Sekali lagi aku menghembuskan napas ke udara. Berharap kerumitan ini dapat terbawa olehnya. Aku keluarkan ponsel dan menulis beberapa kalimat sebagai penutup renunganku malam ini.

Aku menyukai malam. Ketika gemintang berkelip-kelip. Ketika jangkrik menggelar opera malam. Ketika bayangmu menari-nari di benakku. Seakan semua lenyap ditelan gelapnya, menyisakan bintang, jangkrik, dan bayangmu.
Aku menyukai malam. Meski dipenuhi harapan mustahil. Meski disesaki janji tak pasti. Meski kadang rindu lewat sejenak. Tapi terbayar semua ketika memandang langit.
Aku menyukai malam. Karena aku menyukaimu.
-Jaya

***

Agustus 2022

Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku. Raya. Lalu duduk di sebelahku.

Heh! Kok aku baru tahu sih kamu bisa jago banget main gitarnya?”

Aku hanya mengangkat kedua bahuku.

Nanti kapan-kapan mainin satu lagu buat aku, ya?”

Aku hanya mengacungkan jempol ke wajahnya.

Kamu lagi kenapa, sih? Kok kayak lagi beda begini?” Selidiknya.

Aku hanya menggelengkan kepala. Memberi tanda aku tidak apa-apa. Padahal aku sedang merenungkan berbagai hal. Seperti tadi ketika aku sedang tampil bermain gitar di depan kelasnya. Semua terasa asyik dan mengalir begitu saja, seperti biasanya. Bahkan anak-anak ikutan bernyanyi sambil berdiri. Hanya satu yang mengganjal di kelapaku. Saat itu tatapannya kepadaku terasa beda. Tatapan kagum, seperti bangga dan entahlah... sayang? Tatapannya sangat beda dan tidak familiar.

Heh! Ngelamun lagi. Kenapa sih?” Menepuk pelan pahaku.

Aku menghembuskan napas. Sepertinya memang harus aku tanyakan agar semua terasa semakin jelas.

Ra...” Panggilku menggantung.

Hhmmm?” Menunggu.

Kita... sahabatan, kan?” Menatapnya dengan, entahlah sedang seperti apa mimikku.

Dia hanya diam. Aku juga diam, menunggu jawabannya.

I-iya. Iyalah, sahabat baik. Ya, kan?” Balik bertanya.

Aku hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Wajahnya kini sedikit meredup. Matanya terlihat seperti kesusahan memendam sesuatu. Aku tahu dia menahannya. Aku menunggu, barangkali dia ingin meluapkannya. Tapi yang ada dia memalingkan wajahnya sebentar lalu pergi begitu saja. Entahlah, apakah aku salah? Sepertinya iya. Kini situasinya menjadi semakin rumit. Aahh... Andai tidak aku tanyakan tadi.

***

November 2022

Sepi. Tidak ada bising-bising dari dapur, tidak ada tawa yang menggema sepanjang lorong, tidak ada omelan-omelan kecil lagi, tidak ada. Selama dua bulan terakhir Raya sudah jarang mampir ke apartemenku. Berangkat ke sekolah juga seringnya diantar oleh Pak Rusdi. Sepertinya terkabul apa yang aku minta, sedikit ruang untuk hatiku. Tapi ini bukan sedikit lagi. Sudah dua bulan seperti ini. Seperti ada yang salah. Entahlah, aku sedang tidak ingin berlarut-larut dalam renungan lagi.

Ruangan aku setel sedikit redup agar suasana menonton TV seperti sedang di bioskop. Volume suaranya juga aku naikkan. Tak lupa aku siapkan jagung berondong di sampingku. Pendingin ruangan memang sudah menyala sejak pagi, jadi tidak perlu aku setel lagi. Tinggal memilih film yang seru untuk ditonton. Rasanya aku sedang tidak ingin keluar-keluar dulu. Mengingat sekarang merupakan akhir pekan, jadi kemungkinan di luar sana juga akan ramai, membuatku semakin malas untuk keluar.

TOK! TOK! TOK!

Setelahnya terdengar pintu terbuka. Aku diam sebentar, mengingat dan berpikir siapa yang membuka pintu barusan. Tak meunggu lama orangnya langsung duduk di sofa satunya sambil menaruh kantong di atas meja. Tak perlu banyak berpikir lagi aku sudah tahu siapa dia. Siapa lagi kalau bukan Raya. Dia memang suka asal masuk saja ke apartemenku. Beberapa kali juga suka menginap—tentunya sebelum dua bulan terakhir. Setelah duduk dia langsung merebahkan badannya ke sandaran sofa sambil menghembuskan napas. Dari wajahnya aku melihat sedikit lelah. Entah yang ini lelah dari mana, aku bukan cenayang. Tak lama dia langsung berdiri lagi membawa kantong tadi menuju dapur. Aku hanya memerhatikan saja. Biarlah, jika memang dia ingin masak silakan saja. Toh, aku juga hari ini belum memasak sama sekali.

Film sudah aku temukan. Saatnya menikmati tontonan. Dari dapur terdengar teriakan kurang begitu jelas. Aku hanya ber-hah meminta pengulangan. Dia menanyakan film apa yang sedang aku putar. Aku beri tahu dia dan hanya ‘oh’ saja respon darinya. Tak lama setelahnya dia datang lalu duduk di sofa yang tadi dia duduki sambil membawa sepiring buah yang sudah bersih dan dipotong-potong.

Ra...” Panggilku tanpa melepas pandanganku dari TV.

Ya?” Dia ikutan menonton.

Kamu masakannya kan enak, mau nggak masakin aku, mumpung aku juga udah punya perabot dapur lengkap, nggak perlu tiap hari kok. Nanti imbalannya... hmmm... apa ya? Kamu mau imbalannya apa?” Mengusulkan ide.

Hhmmm... Boleh aja sih. Aku mau imbalannya sederhana aja. Anter jemput aku ke sekolah. Gimana?” Kini matanya berbinar.

Beres, Bu Komandan” Mengangkat tangan hormat.

Semoga saja dengan begini aku bisa dekat lagi denganya. Aku merasa sebelumnya—dua bulan terakhir—seperti sedang marahan, bertengkar. Toh, tidak ada salahnya bukan, ingin kembali akrab dengan sahabat sendiri?

Jay...” Panggilnya menggantung. Aku hanya menoleh.

Aku kangen... kita yang dulu” Di matanya terlihat sedikit sendu. Yeah, aku tahu. Aku juga rindu kami yang dulu.

***

Januari 2023

Kabar tidak mengenakkan datang pagi buta. Ayahku jatuh sakit hingga rawat inap. Aku ingin segera pulang dan menjenguknya tapi mama menahanku dengan alasan ongkos mahal, kasihan aku, katanya. Mau bagaimana lagi, aku menurut saja. Bisa-bisa aku durhaka jika melanggarnya.

Hari ini aku masuk siang. Jadi tidak perlu repot-repot sejak pagi buta untuk siap-siap. Aku berpindah ke ruang santai untuk menonton TV. Kayaknya nonton film asik nih. Separuh film berjalan pintu apartemenku terbuka, Raya masuk dengan seragam dan tas biru langitnya. Matahari telah terbit ketika dia datang. Tangannya membawa buah-buahan yang dibungkus oleh plastik bening.

Widiihh udah bangun nih pangeran. Bukannya kamu masuk siang ya?” Berjalan ke dapur.

Iya” Mataku tidak lepas dari TV.

Kok udah bangun aja? Biasanya juga masih tidur-tiduran” Memotong buah-buah tadi.

“”Iya” Sedikit aku keraskan karena lumayan jauh jaraknya.

Lagi ada apa nih? Lagi banyak pikiran, ya?”

Nggak, kok”

Terus?” Sudah duduk di sebelahku.

Ya nggak ada apa-apa. Emang lagi pengen bangun pagi aja kenapa sih?”

Yaaa nanya doang emang kenapa sih?” Di kata-kata terakhir bibirnya dimajukan, mengejek.

Oh iya, Jay. Nanti pulang jemput ya? Aku rencana mau nginep di sini. Boleh ya?”

Okeh, siap Bu Komandan” Mengangkat tangan hormat.

Dia sudah tinggal di rumahnya sekarang, bukan di kos lagi. Dia merasa akan lebih enak jika tidak tinggal di kos. Katanya hitung-hitung mengurangi pengeluaran. Toh, beberapa kali juga dia lebih suka menginap di apartemenku. Tentu tidak sekamar. Ada satu kamar kosong yang aku gunakan sebagai gudang. Tapi jika dia menginap gudang tersebut berubah menjadi kamar tidurnya.

Hubungan antara Raya dan Pak Rusdi juga sudah membaik. Seperti tadi dia diantar oleh Pak Rusdi. Hampir setiap pagi dia selalu mampir ke apartemenku berkat kesepakatan baru kami, dia yang masak dan aku yang antar jemput. Dengan begitu pula, hubunganku dengannya juga semakin membaik. Aku bersyukur karenanya. Tapi bagaikan ada gula pasti ada semut, ketika hubungan kami membaik begitu pun dengan sikapnya yang seperti itu kembali lagi. Tapi kali ini seperti sedikit dia tahan agar tidak kelewatan.

Kami masih duduk-duduk hinga tak sadar sudah jam enam pagi lewat lima belas. Dia panik dan menyuruhku bergegas mengantarku. Karena dia panik aku jadi ikutan panik juga. Sampai-sampai lupa kunci motor dan dompet secara bergantian. Ah, repot sudah urusannya kalau dia sudah panik.

***

Maret 2023

Angin berhembus pelan, menggerak-gerakkan ujung rambutku. Terlihat sekumpulan burung sedang terbang menuju sarang mereka. Matahari telah lelah bertengger di langit sana, meminta bulan untuk menggantikannya. Dari atas gedung sini, langit terlihat sangat tenteram. Sesekali kemeja cokelatku yang tidak dikancing terhembus angin dan melambai-lambai. Di bawah sana, jalanan terlihat sedikit padat, mungkin karena sudah memasuki jam pulang kerja. Rasanya seolah menyuruhku untuk berdiam lebih lama menikmati kota ini.

Sore ini merupakan sore terakhirku di kota ini, kota penuh keajaiban, penuh cerita, penuh pengalaman dan penuh-penuh lainnya. Esok subuh aku harus berangkat menuju kota kelahiranku, terpaksa kembali karena satu dan lain hal yang tidak dapat aku tolak. Aku juga tidak tahu apakah aku dapat kembali ke kota ini lagi atau tidak. Meskipun terdapat beberapa konflik dan pertikaian mengenai keputusanku yang ini, tapi aku yakin ini adalah jalan yang terbaik, semoga saja begitu.

Terdengar suara ketukan sepatu seperti sedang terburu-buru. Dia berhenti tepat di belakangku. Terdengar napasnya yang menderu habis berlari tadi.

Ka... kamu kok... hahhh... Kamu kok dadakan banget ngabarinnya sih?” Protesnya masih tersengal.

Aku membalikkan badan, mencoba melihat dan mengenali siapa yang berada di belakangku. Menatapnya sambil tersenyum, mencoba menenangkannya.

Maaf ya, Ra. Malah aslinya aku nggak pengen ngasih tahu kamu sama sekali. Hehe... Sekali lagi maaf, ya”

Emangnya kamu harus banget pulang, Jay? Kan ada adik kamu, ada om sama tante kamu, nggak harus pulang kan, Jay?” Memelas.

Hah... Bagaimana aku harus menjelaskannya. Dengan kepergiannya ayahku, keluargaku tidak memiliki tulang punggung yang kokoh. Sedangkan posisiku sebagai anak pertama sedang merantau. Kemarin mama memintaku untuk pulang dan menggantikan posisi ayahku di kantor. Rasanya aku ingin sekali mengatakan ke mama bahwa aku sudah mandiri di tempat perantauanku, tapi lagi dan lagi aku takut menjadi anak durhaka. Setidaknya aku turuti saja dulu sampai pertengahan tahun nanti. Jika aku merasa cocok maka lanjut merupakan pilihan yang bijak. Namun, jika aku tidak cocok maka aku akan mempertimbangkan kembali ke sini lagi.

Sejujurnya aku juga tidak ingin pergi begitu saja meninggalkannya sendiri di sini. Ingin rasanya mengajaknya pergi denganku. Tapi siapa aku? Aku hanya sahabatnya, sahabat baik. Tidak lebih, tidak kurang.

Jay... please...” Wajahnya semakin memelas.

Aku tidak tahan melihat wajahnya itu. Butir air di ujung mataku mulai keluar. Susah payah sejak tadi aku tahan agar tidak keluar. Segera aku memalingkan pandangan ke atas. Melihat betapa indahnya senja kala itu. Sayang, senja itu merupakan senja terakhir yang akan aku lihat di kota ini. Setelah menghilangkan air di mataku, aku kembali menatapnya.

Aku harus pulang, Ra” Meyakinkannya.

Terus kerjaan kamu gimana di TV? Terus kalau kamu pulang, yang jadi guru musik siapa? Terus nanti kalau anak-anak nanyain gimana, Jay? Terus... terus...” Mulai sesenggukan.

Kerjaan udah aman. Di TV aku udah minta cuti sampe tengah tahun nanti. Soal sekolah aku juga minta cuti sampe semester berakhir. Udah aku urus kok”

Terus... terus nanti... aku gimana, Jay?” Matanya sudah basah.

Aku terdiam. Pertanyaan tadi seolah mengunciku. Semakin aku diam semakin dia terisak keras. Tubuhnya sudah bergetar-getar. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jangan sampai yang keluar dari mulutku adalah harapan palsu, karena itu akan merobek hatinya—lagi. Aku berusaha mati-matian menjaga keseimbanganku karena tenagaku benar-benar terkuras. Lemas rasanya melihat dia seperti ini, apalagi dia terisak karena aku.

Kamu... kamu nggak apa-apa kan aku tinggal? Aku udah nitip kamu sekalian pamit ke Pak Rusdi tadi pagi. Nggak apa-apa ya, Ra?” Isakannya mereda tapi tidak ada tanda-tanda berhenti.

Kamu pegang kunci apartemenku, ya? Nanti kalo kamu kangen atau mau nginep juga boleh mampir ke apartemenku, kok. Sepuasnya. Selama aku masih menghasilkan uang akan aku bayar tagihan-tagihannya. Kamu tinggal dateng aja. Nggak apa-apa ya, Ra?” Kini dia yang diam.

Meski samar tapi aku melihat sebersit dari matanya seolah dia menahan sesuatu, seperti waktu itu. Susah sekali sepertinya ia pendam hingga hanya diam saja yang terjadi. Aku tetap menunggu, barangkali sekaranglah waktunya dia ungkapkan. Semakin lekat menatap matanya semakin ragu tatapannya untuk mengungkapkan. Akhirnya dia memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke bawah. Tidak. Sepertinya kali ini bukanlah saatnya.

Ayolah, Raya. Apa yang kamu sembunyikan dariku hingga kamu kesusahan menahannya? Aku ingin tahu tapi aku juga tidak dapat memaksa. Aku juga tidak tahu apakah masih ada kata besok untuk kita. Apapun itu akan aku dengarkan. Aku tahu kamu kelelahan menahannya sendirian, maka mari kita berbagi. Aku membagi senangku ke kamu dan kamu membagi sengsaramu kepadaku.

Hati-hati di jalan ya, Jay” Sambil tetap menatap ke bawah.

Hanya itu ucapannya? Tidak ada yang lain kah? Ayolah aku tahu masih ada yang lain.

Besok aku ikut anter ya, ke stasiun?” Sedikit memelas.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum getir kepadanya. Mungkin ini cara berpisah yang terbaik, mungkin. Semoga saja dia dapat menerima keputusanku. Rampung sudah hutang penjelasanku kepadanya sore ini. Tinggal satu yang masih belum selesai.

Ra...” Dia menoleh memerhatikan.

Kita masih... sahabatan, kan?” Aku menjulurkan jari kelingkingku.

Tatapannya seperti mengelak, tidak terima. Tapi dengan senyum getir dia mengangguk lalu membalas dan mengaitkan kelingking kami. Sahabat, sahabat baik.

***

Juni 2023

Sore yang sangat jauh berbeda dari kota sebelumnya. Macet. Di mana-mana selalu macet. Seperti inilah landscape kota besar. Bisa dipastikan aku akan terjebak sekitar satu hingga dua jam di jalan. Untung mobil ayahku lumayan nyaman untuk kondisi macet seperti ini. Aku setel playlist laguku ke pengeras suara mobil, mengusir bosan.

Jika dipikir-pikir lagi aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas baruku. Pagi ke kantor menggunakan mobil peninggalan ayah, masuk kantor hingga menjelang sore, perjalanan pulang yang selalu ditemani oleh macet, malam tinggal tidur. Hanya saja sudah tidak ada lagi yang cerewet seperti dulu. Mama? Ah, menurutku mama kalah cerewetnya dengan Raya.

Oh iya, omong-omong tentang Raya, apa kabarnya dia? Sudah lama aku tidak menghubunginya. Bagaimana hari-harinya saat mengajar? Apa dia masih mampir ke apartemenku? Ah, sepertinya rindu mulai menguasai lahan hati. Biarlah.

Berhubung sekarang sudah tengah tahun, aku harus memutuskan juga harus bagaimana ke depannya. Apa aku tetap terus bekerja di kantor menggantikan ayah? Jujur saja penghasilanku selama di kantor selama ini telah melibihi hasil jerih payahku selama setahun penuh di kota sebelumnya. Padahal terhitung baru empat bulan. Jika pertimbangannya adalah uang, maka rasionalisasi tadi sangat-sangat masuk akal untuk memilih opsi tetap lanjut di sini. Tapi aku rasa tidak hanya itu saja pertimbangannya. Bagaimana dengan kerjaan di sana? Akan panjang urusannya nanti. Termasuk juga pertanyaan Raya terakhir, bagaimana dengannya? Itu juga akan menjadi pertimbanganku.

Sejak tadi klakson dari tiap-tiap kendaraan sudah bersahutan. Sesekali aku ikut menyumbang, ingin ikut-ikutan saja, hehe. Matahari juga sudah semakin tenggelam. Lampu-lampu jalan sudah dinyalakan. Terlihat beberapa orang juga berjalan tergesa-gesa di trotoar. Sepertinya mereka tidak ingin tertinggal kereta. Aku melihat ke trotoar sebelah, menyaksikan beberapa orang juga sedang duduk-duduk di bangku pinggir trotoar. Ada yang sedang berbincang lewat telpon, ada yang asyik mengetik di ponselnya, ada yang sedang tertidur. Eh! Itu... Hah! Ini betulan? Kok ada dia di sini?

Aku segera membuka jendela mobil lalu berteriak ke orang yang sedang tertidur itu.

RAA!! WOOYY!!” Berteriak sekeras mungkin.

Yang aku teriaki terbangun dan sedikit bingung, siapa yang memanggilnya. Dia menyipitkan matanya sambil melihat-lihat siapa barusan yang memanggilnya.

RAA!! OOIII!! SINIII!!” Panggilku sambil melambaikan tangan.

Dia terkejut lalu mengemasi barang-barangnya yang berserakan. Berlari kecil ke arah mobilku.

JAYA! INI KAMU?” Masih tidak percaya.

Buruan masuk, nanti malah diklakson mulu sama mobil lain loh” Menunjuk bangku di sebelahku.

Dia buru-buru memutari mobil lalu membuka pintu, menaruh barang-barangnya ke bangku belakang lalu duduk manis di sebelahku. Aku menatapnya lumayan lama. Aku rasa dia menjadi kurus—entah ini pertanda baik atau buruk. Wajahnya masih tetap cantik seperti biasa, tidak berubah sama sekali. Sangat kebetulan sekali dapat bertemu di tengah macet seperti ini. Eh, tunggu. Kok bisa bertemu? Kenapa dia ada di sini? Kenapa tidak mengabariku kalau mau ke sini? Entahlah, pertanyaannya dapat dijawab nanti. Lihatlah, yang aku tatap kini hanya senyum-senyum seperti tidak berdosa.

Aku segera mengajaknya makan malam di luar. Tentu sambil memamerkan penghasilanku di sini aku membawanya ke restoran yang terbilang lumayan mahal. Dia hanya terkagum-kagum sambil membandingkan restoran yang biasa dia makan di sana. Setelah makan malam baru dia bercerita banyak. Tentang sekolah dan murid-murid yang menanyakan keberadaanku. Guru musik baru saja diterima bulan lalu oleh pihak sekolah, tapi banyak anak-anak yang tidak menyukainya. Katanya lebih asyik bersama Pak Jay. Beberapa guru lain juga sering menanyakan kabarku lewat dia. Dia hanya menjawab tidak tahu. Katanya apartemenku juga beberapa kali dia bersihkan. Terkadang dia juga menginap dan memasak di sana. Baguslah. Pak Rusdi juga beberapa kali menanyakan kabarku. Katanya beliau bulan depan ingin memenuhi undangan di sini, katanya siapa tahu bisa bertemu.

Malam semakin larut. Mama menanyakan keberadaanku. Aku hanya menjawab lewat video yang menayangkan aku, Raya, dan jajanan pinggir jalan. Memberi tahunya aku masih di luar bersama teman jauh. Ternyata jajanan yang kami beli rasanya terlalu pedas, bahkan untuk lidahnya Raya. Kami berlari-larian ke mini market terdekat untuk membeli sebotol air dingin. Setelahnya kami tertawa di pinggir jalan. Membayangkan ekspresi kami ketika sedang kepedasan tadi.

Jay...” Panggilnya sambil berjalan.

Yap” Aku mengikutinya dari samping.

Kamu tahu nggak?” menoleh kepadaku. Aku hanya menggoleng.

Aku kangen banget ternyata sama kamu...”

Ternyata aku sekangen itu sampe-sampe aku berangkat sendiri ke sini tanpa kabar tanpa persiapan mateng. Cuman ngandelin insting, ingatan, sama tekad. Hehehe...” Itulah alasan kenapa dia bisa sampai sini.

Jujur, Ra. Aku juga kangen. Pengen rasanya rebahan lagi di kamarku di sana, pengen males-malesan di sofa sambil nonton film, pengen main gitar lagi di depan kelas, pengen pusing-pusing lagi di meja kantor sana karena banyak revisian, pengen juga...” Diam sejenak.

Pengen juga deket lagi sama kamu” Tatapan kami bertemu.

Kini di balik matanya muncul lagi rasa menahan sesuatu, seperti waktu itu. Tapi sepertinya aku sudah muak menunggu untuk diluapkan olehnya. Lebih baik aku saja yang mengutarakan semuanya kepadanya.

Ra...” Tatapan kami bertemu kembali.

Aku pengen ngomong sesuatu” Seperti meminta persetujuan, dia hanya mengangguk.

Sebenernya aku masih memendam rasa buat kamu, sejak awal, sejak kamu tolak perasan ini. Aku terus memendam ini dengan harapan aku dapat menyuburkanya sebagai sesuatu yang lain, sebagai sahabat mungkin? Tapi nyatanya rasa ini malah tumbuh semakin menyukai kamu. Awalnya aku menolak perasaan ini karena emang kita udah punya janji, pinky promise itu. Aku mencoba mengubur perasaan dan harapan untuk kamu. Semakin aku kubur semakin ia tumbuh dengan subur. Mungkin beberapa kali kamu menyadarinya dari gelagat atau tingkah lakuku. Aku terus berusaha memegang janji itu, janji sebagai sahabat. Hadir ketika kamu butuh, membantu ketika kamu meminta, menemani ketika kamu kesepian, aku lakukan semua. Tapi ternyata itu malah semakin membuatku pengen terus berada di dekat kamu, apalagi setelah mendengar cerita tentang masa lalu kamu. Aku semakin protektif jika sangkut pautnya kamu.

Tapi pada akhir-akhir kemarin aku merasa kamu sendiri seperti melanggar janji kita. Kamu mulai kelewat batas—meskipun aku nggak keberatan. Tapi aku jadi mikir lagi. Ini kamu emang lupa janji apa emang pengen ngelanggar janji kita? Makanya waktu itu aku tanya ke kamu tentang status kita. Respon kamu justru di luar ekspektasiku. Aku juga sempet lihat tatapan kamu yang lagi memendam sesuatu, kayak sekarang ini. Sejak saat itu aku penasaran dan terus bertanya-tanya apa yang kamu pendam sendirian itu. Aku menunggu dan terus menunggu sampe kamu mau menceritakannya ke aku. Tapi sampe sekarang pun kamu belum bisa. Jadi, kalau begitu, Biar aku aja yang mengutarakan semuanya” Tarik napas setelah mengungkapkan banyak perasaan.

Ra... Aku suka kamu. Gimana dengan kamu?” Menatapnya lekat-lekat.

Dia hanya tersipu sambil tersenyum tipis. Seperti sedang menimbang-nimbang. Dari tatapannya seperti sedang memutuskan beberapa hal penting. Setelah beberapa saat akhirnya dia bersuara.

Aku juga suka sama kamu, Jay” Wajahnya merona.

Rampung sudah semuanya. Tidak ada lagi malam-malam penuh pertanyaan yang tak menemukan jawabannya. Tidak ada lagi prasangka-prasangka dan kemungkinan yang selalu membayang-bayangi kepalaku. Tidak ada lagi pertikaian antara otak dan hati yang mementingkan antara logika dan perasaan. Rampung semuanya.

Ah, kini malam semakin indah saja. Bahkan jatuh tersandung saja menjadi indah. Soal kerjaan? Ah, sudahlah. Tidak perlu dibuat ribet. Kalian pasti tahu aku memilih yang mana, bukan?

Ternyata aku salah. Kisah ini bukan tentang perpisahan, melainkan tentang pertemuan. Ini baru akhir dari pertemuan. Masih jauh kata perpisahan dalam hidupku. Masih panjang perjalanan hidupku.

Sekian sedikit kisah kami tentang pertemuan. Mungkin lain waktu aku dapat berbagi kisah-kisah yang lain, mungkin. Sampai jumpa.

***

Comments